Belajar Menjadi Aktivis Lingkungan

Jakarta, YHL - Mau hidup dari aktivitas sebagai aktivis lingkungan atau mau menghidupi aktivitas untuk jadi aktivis lingkungan? Pilih jawabanmu, untuk jadi indikasi seberapa kuat keberadaanmu sesuai pengakuan sebagai aktivis lingkungan.... Banyak yang mengaku diri adalah aktivis lingkungan, tapi sesungguhnya kehidupannya jauh dari kegiatan peduli apalagi melestarikan lingkungan hidup.
Untuk menjiwai hal ini sesungguhnya tak perlu terlalu berteori apa aktivis dan apa pekerja, suatu hal yang sering dilakukan oleh aktivis lingkungan yang memisahkan keberadaan mereka dengan para pekerja yang membantu keseharian mereka dalam langkah-langkah praktis. Lebih baik belajar dari orang lain yang betul setia menjalani dan mengabdikan diri pada bidang ini.

Sebutlah salah satu contoh, Pak Mukrim, yang berprofesi sebagai Office Boy (OB) di sebuah LSM lingkungan di Jakarta, yang bekerja selama hampir puluhan tahun. Hingga pada suatu masa perjalanan di LSM itu, menurut Ika, "Ia belum mendapatkan gaji bulanannya (3 bulan sudah, pada 2008). Oleh karena itu, ia membutuhkan pekerjaan untuk menopang biaya hidup keluarga sehari-hari (satu istri, satu anak yang bersekolah di SMP, 2 anak balita, dan 1 bayi dalam perawatan) serta menambah pemasukan bagi biaya perawatan bayi Fahri yang saat itu masih berada dalam inkubator ruang ICU bayi RS Fatmawati Jakarta. Pihak rumah sakit tidak meminta biaya rawat-inap, namun beberapa obat dan supplemen, serta popok bayi harus dibeli orang tua bayi."Ika pun melanjutkan, "Ayah bayi Fahri ini memiliki keterampilan berkebun, bertangan dingin dengan tanaman-tanaman, dapat membuat pupuk sendiri yang ramah lingkungan, rajin dan tekun mengembangkan keterampilannya dalam berkebun."
Maka..., ungkap Ika saat itu, "Apabila di antara pembaca ada yang mengetahui atau membutuhkan bantuan tukang kebun, kiranya Pak Mukrim dapat diberi kesempatan untuk bekerja guna mendapatkan penghasilan bagi kelangsungan hidup keluarganya, dan menjadi mandiri tidak selamanya bergantung pada bantuan para dermawan dan belas kasihan orang. Jika pembaca atau para dermawan ingin berkomunikasi langsung dengan ayah bayi inkubator, silakan menghubungi bekas kantor yang ditinggalinya bersama keluarga." 

Menurut Ika, Pak Mukrim sangat berharap segera dapat memperoleh pekerjaan dan berkurang ketergantungannya pada orang lain. "Atas perhatian para dermawan, kami ucapkan terima kasih," ucap Ika mewakili para voluntir atas nama Mukrim ayahanda bayi inkubator/Fahri. 
Kini, 2011, Mukrim bekerja sebagai seorang pekerja di pertanian organik di pedesaan, setelah mengalami masa lebih susah menjadi pemulung sampah. Karim terus menjiwai pengabdiannya selama ini di LSM Lingkungan yang gencar menyuarakan hidup peduli lingkungan lestari. (harmonilingkungan.blogspot.com) Yayasan Harmoni Lingkungan (YHL)

Komentar

Postingan Populer